Sunday, December 28, 2014

KHULU'

Khulu' Oleh Azfa Rizqina pada 25 Desember 2014 pukul 6:46 Sang Penyendiri Apkh hukum'y jika seorang istri meminta bercerai akan tetapi sang suami enggan utk mncraikn'y ﺃﺍﻝ ﻣﺼﻄﻔﻲ Haram meminta khulu jika tidak ada alasan yang dibenarkan dalam syar'i ﺃﻳﻤﺎ ﺍﻣﺮﺃﺓ ﺳﺄﻟﺖ ﺯﻭﺟﻬﺎ ﻃﻼﻗﻬﺎ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺑﺄﺱ ﻓﺤﺮﺍﻡ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﺭﺍﺋﺤﺔ ﺍﻟﺠﻨﺔ Perempuan yang meminta cerai pada suaminya tanpa sebab maka haram baginya bau surga. ( Tirmidzi Abu Dawud Ibnu Hibban ) Boleh meminta khulu jika ada syarat/ alasan yang dibenarkan menurut syar'i : ﺃَﻥَّ ﺍﻣْﺮَﺃَﺓَ ﺛَﺎﺑِﺖِ ﺑْﻦِ ﻗَﻴْﺲٍ ﺃَﺗَﺖْ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲَّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻓَﻘَﺎﻟَﺖْ : ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺛَﺎﺑِﺖُ ﺑْﻦُ ﻗَﻴْﺲٍ ﻣَﺎ ﺃَﻋْﺘِﺐُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻓِﻲ ﺧُﻠُﻖٍ ﻭَﻻ ﺩِﻳﻦٍ، ﻭَﻟَﻜِﻨِّﻲ ﺃَﻛْﺮَﻩُ ﺍﻟْﻜُﻔْﺮَ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡِ. ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ : ‏ﺃَﺗَﺮُﺩِّﻳﻦَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺣَﺪِﻳﻘَﺘَﻪُ؟ ﻗَﺎﻟَﺖْ : ﻧَﻌَﻢْ . ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ : ﺍﻗْﺒَﻞْ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳﻘَﺔَ ﻭَﻃَﻠِّﻘْﻬَﺎ ﺗَﻄْﻠِﻴﻘَﺔً "Bahwasanya istri Tsabit bin Qois mendatangi Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam dan berkata, "Wahai Rosululloh, suamiku Tsabit bin Qois tidaklah aku mencela akhlaknya dan tidak pula agamanya, akan tetapi aku takut berbuat kekufuran dalam Islam" Maka Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam berkata, "Apakah kau (bersedia) mengembalikan kebunnya (yang ia berikan sebagai maharmu)?" Maka ia berkata, "Iya". Rosululloh pun berkata pada Tsaabit, "Terimalah kembali kebun tersebut dan ceraikanlah ia !" ( Bukhori 5373 ) Ibnu Qudamah rohimahulloh berkata : ﻭﺟﻤﻠﻪ ﺍﻷﻣﺮ ﺃﻥ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﺇﺫﺍ ﻛﺮﻫﺖ ﺯﻭﺟﻬﺎ ﻟﺨﻠﻘﻪ ﺃﻭ ﺧﻠﻘﻪ ﺃﻭ ﺩﻳﻨﻪ ﺃﻭ ﻛﺒﺮﻩ ﺃﻭ ﺿﻌﻔﻪ ﺃﻭ ﻧﺤﻮ ﺫﻟﻚ ﻭﺧﺸﻴﺖ ﺃﻥ ﻻ ﺗﺆﺩﻱ ﺣﻖ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻲ ﻃﺎﻋﺘﻪ ﺟﺎﺯ ﻟﻬﺎ ﺃﻥ ﺗﺨﺎﻟﻌﻪ ﺑﻌﻮﺽ ﺗﻔﺘﺪﻱ ﺑﻪ ﻧﻔﺴﻬﺎ "bahwasanya seorang wanita jika membenci suaminya karena akhlaknya atau rupa dan jasadnya atau karena agamanya, atau karena tuanya, atau lemahnya, dan yang semisalnya, dan ia khawatir tidak bisa menunaikan hak Alloh dalam mentaati sang suami maka boleh baginya untuk meminta khulu' pada suaminya dengan memberikan biaya/ganti untuk membebaskan dirinya" ( Al-Mughni 8/174 ) ﺍﻟﺨﻠﻊ ﻧﻮﻉ ﻣﻦ ﺍﻟﻄﻼﻕ ﻷﻥ ﺍﻟﻄﻼﻕ ﺗﺎﺭﺓ ﻳﻜﻮﻥ ﺑﺪﻭﻥ ﻋﻮﺽ ﻭﺗﺎﺭﺓ ﻳﻜﻮﻥ ﺑﻌﻮﺽ ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﻫﻮ ﺍﻟﺨﻠﻊ ﻭﻗﺪ ﻋﺮﻓﺖ ﺃﻥ ﺍﻟﻄﻼﻕ ﻳﻮﺻﻒ ﺑﺎﻟﺠﻮﺍﺯ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﺤﺎﺟﺔ ﺍﻟﺘﻲ ﺗﻘﻀﻲ ﺍﻟﻔﺮﻗﺔ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﺰﻭﺟﻴﻦ ﻭﻗﺪ ﻳﻮﺻﻒ ﺑﺎﻟﻮﺟﻮﺏ ﻋﻨﺪ ﻋﺠﺰ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻋﻦ ﺍﻹﻧﻔﺎﻕ ﻭﺍﻻﺗﻴﺎﻥ ﻭﻗﺪ ﻳﻮﺻﻒ ﺑﺎﻟﺘﺤﺮﻳﻢ ﺇﺫﺍ ﺗﺮﺗﺐ ﻋﻠﻴﻪ ﻇﻠﻢ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﻭﺍﻷﻭﻻﺩ ﻭﻗﺪ ﻳﻮﺻﻒ ﺑﻐﻴﺮ ﺫﻟﻚ ﻣﻦ ﺍﻷﺣﻜﺎﻡ ﺍﻟﻤﺘﻘﺪﻡ ﺫﻛﺮﻫﺎ ﻫﻨﺎﻙ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﺍﻷﺻﻞ ﻓﻴﻪ ﺍﻟﻤﻨﻊ ﻭﻫﻮ ﺍﻟﻜﺮﺍﻫﺔ ﻋﻨﺪ ﺑﻌﻀﻬﻢ ﻭﺍﻟﺤﺮﻣﺔ ﻋﻨﺪ ﺑﻌﻀﻬﻢ ﻣﺎ ﻟﻢ ﺗﻔﺾ ﺍﻟﻀﺮﻭﺭﺓ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻔﺮﺍﻕ "Khulu itu setipe dengan talak. Karena, talak itu terkadang tanpa tebusan dan terkadang dengan tebusan. Yang kedua disebut khulu. Seperti diketahui bahwa talak itu boleh apabila diperlukan. Terkadang wajib apabila suami tidak mampu memberi nafkah. Bisa juga haram apabila menimbulkan kezaliman pada istri dan anak. Hukum asal adalah makruh menurut sebagian ulama dan haram menurut sebagian yang lain selagi tidak ada kedaruratan untuk melakukannya). [Al-Jaziri, Al-Fiqh ala Al-Madzahib Al-Arba’ah 4/186] ﺇﺫﺍ ﻛﺮﻫﺖ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﺯﻭﺟﻬﺎ ﻟﻘﺒﺢ ﻣﻨﻈﺮ ﺃﻭ ﺳﻮﺀ ﻋﺸﺮﺓ ﻭﺧﺎﻓﺖ ﺃﻥ ﻻ ﺗﺆﺩﻱ ﺣﻘﻪ ﺟﺎﺯ ﺃﻥ ﺗﺨﺎﻟﻌﻪ ﻋﻠﻰ ﻋﻮﺽ ﻟﻘﻮﻟﻪ ﻋﺰ ﻭ ﺟﻞ } ﻓﺈﻥ ﺧﻔﺘﻢ ﺃﻥ ﻻ ﻳﻘﻴﻤﺎ ﺣﺪﻭﺩ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻼ ﺟﻨﺎﺡ ﻋﻠﻴﻬﻤﺎ ﻓﻴﻤﺎ ﺍﻓﺘﺪﺕ ﺑﻪ { ‏[ ﺍﻟﺒﻘﺮﺓ : 229 ‏] ﻭﺭﻭﻱ ﺃﻥ ﺟﻤﻴﻠﺔ ﺑﻨﺖ ﺳﻬﻞ ﻛﺎﻧﺖ ﺗﺤﺚ ﺛﺎﺑﺖ ﺑﻦ ﻗﻴﺲ ﺑﻦ ﺍﻟﺸﻤﺎﺱ ﻭﻛﺎﻥ ﻳﻀﺮﺑﻬﺎ ﻓﺄﺗﺖ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻨﺒﻲ ‏( ﺹ ‏) ﻭﻗﺎﻟﺖ : ﻻ ﺃﻧﺎ ﻭﻻ ﺛﺎﺑﺖ ﻭﻣﺎ ﺃﻋﻄﺎﻧﻲ ﻓﻘﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ‏( ﺹ ‏) ‏[ ﺧﺬ ﻣﻨﻬﺎ ﻓﺄﺧﺬ ﻣﻨﻬﺎ ﻓﻘﻌﺪﺕ ﻓﻲ ﺑﻴﺘﻬﺎ ‏] ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﺗﻜﺮﻩ ﻣﻨﻪ ﺷﻴﺌﺎ ﻭﺗﺮﺍﺿﻴﺎ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺨﻠﻊ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺳﺒﺐ ﺟﺎﺯ ﻟﻘﻮﻟﻪ ﻋﺰ ﻭ ﺟﻞ } ﻓﺈﻥ ﻃﺒﻦ ﻟﻜﻢ ﻋﻦ ﺷﻲﺀ ﻣﻨﻪ ﻧﻔﺴﺎ ﻓﻜﻠﻮﻩ ﻫﻨﻴﺌﺎ ﻣﺮﻳﺌﺎ { ‏[ ﺍﻟﻨﺴﺎﺀ : 4 ] "Apabila istri tidak menyukai suaminya karena buruk fisik atau perilakunya dan dia kawatir tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai istri, maka boleh mengajukan gugat cerai dengan tebusan karena adanya firman Allah dalam QS AlbBaqarah: 229 dan hadits Nabi dalam kisab Jamilah binti Sahl, istri Tsabit bin Qais. … Apabila istri tidak membenci suami akan tetapi keduanya sepakat untuk khuluk tanpa sebab maka itupun dibolehkan karena adanya firman Allah dalam QS An Nisa: 4)" [ As-Syairozi, Al-Muhadzab, 2/289 ] ﻭﺑﻀﺮﺭ ﺯﻭﺝ ﻟﺰﻭﺟﺘﻪ - ﻧﺤﻮ: ﻟﻢ ﻧﺰﻝ ﻧﺴﻤﻊ ﻋﻦ ﺍﻟﺜﻘﺎﺕ ﻭﻏﻴﺮﻫﻢ ﺃﻧﻪ ﻳﻀﺎﺭﻫﺎ ﻓﻴﻄﻠﻘﻬﺎ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺤﺎﻛﻢ "Disebabkan perilaku suami yang membahayakan istri, misalnya ada berita dari sejumlah sumber terpercaya bahwa suami melakukan kekerasan pada istri, maka hakim dapat menceraikan keduanya" [ Al-Mausuah Al-Fiqhiyah 12/285 ] ﻭﺇﺫﺍ ﻛﺎﻧﺖ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﻣﺒﻐﻀﺔ ﻟﻠﺮﺟﻞ ﻭﺗﺨﺸﻰ ﺃﻥ ﻻ ﺗﻘﻴﻢ ﺣﺪﻭﺩ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻲ ﺣﻘﻪ ﻓﻼ ﺑﺄﺱ ﺃﻥ ﺗﻔﺘﺪﻱ ﻧﻔﺴﻬﺎ ﻣﻨﻪ، ﻓﻴﺒﺎﺡ ﻟﻠﺰﻭﺟﺔ ﺫﻟﻚ ﻭﺍﻟﺤﺎﻟﺔ ﻫﺬﻩ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺼﺤﻴﺢ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺬﻫﺐ ﻭﻋﻠﻴﻪ ﺃﻛﺜﺮ ﺍﻷﺻﺤﺎﺏ ﻭﺟﺰﻡ ﺍﻟﺤﻠﻮﺍﻧﻲ ﺑﺎﻻﺳﺘﺤﺒﺎﺏ، ﻭﺃﻣﺎ ﺍﻟﺰﻭﺝ ﻓﺎﻟﺼﺤﻴﺢ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺬﻫﺐ ﺃﻧﻪ ﻳﺴﺘﺤﺐ ﻟﻪ ﺍﻹﺟﺎﺑﺔ ﺇﻟﻴﻪ ﻭﻋﻠﻴﻪ ﺍﻷﺻﺤﺎﺏ. ﻭﺍﺧﺘﻠﻒ ﻛﻼﻡ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺗﻘﻲ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻲ ﻭﺟﻮﺏ ﺍﻹﺟﺎﺑﺔ ﺇﻟﻴﻪ. ﻭﺃﻟﺰﻡ ﺑﻪ ﺑﻌﺾ ﺣﻜﺎﻡ ﺍﻟﺸﺎﻡ ﺍﻟﻤﻘﺎﺩﺳﺔ ﺍﻟﻔﻀﻼﺀ Apabila istri marah pada suami dan takut tidak dapat menjalankan perintah Allah dalam memenuhi hak-hak suami maka istri boleh melakukan gugat cerai. … Al-Halwani menyatakan gugat cerai dalam konteks ini sunnah. Adapun suami maka menurut pendapat yang sahih adalah sunnah mengabulkan permintaan istri. Syekh Taqiuddin dan sebagian hakim Suriah menyatakan bahwa suami wajib memenuhi permintaan istri) [ Al-Mardawi, Al-Inshaf, 8/382 ] SUMBER : m.facebook.com/groups/149511001924312?view=permalink&id=333000143575396

No comments:

Post a Comment